Tragedi Radio itu setahun lalu masih terngiang di telinga kami, hingga kami harus hati-hati dalam menapaki radio ini. Maklum, begitu besar potensi finansial yang diraup dari radio ini, namun kurang ditopang sistem yang transparan, sampai peluang untuk melakukan penyelewengan sangat terbuka. Makin banyak meja yang dilalui untuk proses penyerahan duit, justru makin terbuka untuk disalahgunakan, sebaliknya makin singkat jalan penyerahan duit, pengawasan makin mudah terkontrol, tinggal itikat, dan kejujuran pelakunya.
Tapi, lagi-lagi radio berita yang kini sedang berjuang mendapatkan ijin dari penguasa karena yang harus dilewati memang itu, mendapat cobaan lagi, kendati uang yang disalahgunakan tidak begitu besar,sekitar puluhan juta, tapi membuat image ‘buruk’ bagi pegiat di radio ini. Apalagi modus yang digunakan kali ini sungguh melahirkan image yang buruk, sekali lagi buruk. Karena butuh dedikasi dan kejujuran untuk mengusut kejadian sebenarnya, apalagi sampai mengembalikan citra buruk yang terlanjur berkembang.
Adakah maling yang jujur mencuri di rumah majikannya?, ada tapi hanya pencuri nekat, ini tidak , acapkali ‘pencurian’ –ini baru praduga, selalu dibungkus dengan alasan ‘uang yang hilang ?’, artinya hilang di lingkungan kantor, hilang di lingkungan yang tidak jauh dari kantor. Hampir puluhan orang menjadi korban, ‘uang yang hilang’, ada alasan karena sengaja dicuri, ada alasan kecopetan, ada pula alasan jatuh. Tapi yang menyakitkan yakni alasan dicuri di lingkungan kerja kami. Terlepas benar atau tidak, sejak tahun 2006 sampai 2008 sejak kepindahan kantor, tidak pernah ada kejadian menonjol tentang kehilangan uang, dulu kantor yang sangat aman, dan saling menjaga, menjadi saling curiga, karena tuduhan yang tak pernah terbukti.
Semula dari gosip murahan beredar di kantor, kalau sering terjadi kehilangan uang. Terakhir terjadi pada 23 Desember 2008 sekitar pukul 21 di meja tuan redaksi. Malam itu ada tiga penyiar, satu gatekeeper, dan satu admin yang mengaku uangnya yang hilang. Lumayan yang hilang 3 jutaan, ditaruh di tasnya yang tak sengaja ditinggal sendirian di meja redaksi ke kamar mandi, hanya beberapa menit ke kamar mandi. Lepas tengah malam,pengakuannya sungguh aneh, dompet dimana uang itu tinggal ditemukan di depan satpam kantor yang berjarak sekitar 50 meter dari studio. Anehnya lagi, menurut pengakuan putri gatekeeper yang tengah malam itu pulang berboncengan dengan seorang teman admin yang juga penyiar, melihat dompet disemak-semak rerumputan. Malam itu masih sadar mereka belum mengantuk, didalam dompet masih menyisakan sejumlah uang.
Tapi pengakuan sang admin yang berpuluh-puluh cerita kehilangan itu, mengaku benar masih ada uang di dompetnya. Pertanyaanku, kalau toh hilang , mestinya sang maling ambil semua uang di dompet bukan justru menyisakan. “Kok tahu ya bisa membedakan antara uang pribadi sama uang setoran iklan, padahal ada di satu dompet yang sama,”. Berusaha menuntaskan cerita ‘anehnya’ , sang admin mengaku baru sekali kehilangan uang itu bahkan dibikin ceritanya tragis, dia mengaku sempat pingsan, bahkan dompetnya harus dibawa ke dukun untuk tahu siapa pencurinya. Padahal, sekitar September lalu, aku masih teringat, ketika sang majikan bercerita off the record, bahwa sang admin mengaku pernah kehilangan uang kantor, konkwensinya ia harus menggantinya, akibatnya dia seringkali merasakan sakit perutnya, karena tidak konsen ke pekerjaan. Nyaris ceritanyapun sama, uang ditaruh tas, ditinggal sebentar ke kamar mandi, begitu kembali, uang itu raib, padahal saat itu hanya ada satu orang disampinngya, mungkin orang itu patut dicurigai, tapi sang admin merahasiakan didepan sang majkan, karena tidak ingin merusak image pekerja ‘lama’. Berapa yang hilang waktu itu ? kabarnya lumayan lagi 3 juta, tapi pertanyaanku kok mengaku baru sekali kehilangan. Sang majikan juga tidak berusaha mengorek.
Belum habis helaan nafasku, sang teman juga membocorkan seputar kejadian serupa, bahwa acapkali sang admin mengaku kehilangan, uang sang black gatekeeper mengaku pernah mendapati curhatan sang admin uang dari Panwaslu hilang 1 juta, sang marketing aceh juga mengaku pernah disambati sang admin uangnya hilang 400 ribu rupiah, semua itu berdampak pada komisi mereka yang harus tertunda, belum cerita hilang dari 50 ribu sampai 100 ribu. Gelitikku, kok hilang bolak balik kok ndak kapok, ini teledor, atau modus agar mendapat rasa iba dari teman-teman. Bahkan seorang teman rela dan ikhlas menggadaikan sebuah giwang karena sang admin didesak kebutuhan menolong untuk keluarga. Eh ternyata, selepas giwang teragadaikan, sang admin sehari berikutnya dengan senyum ngakak membeli sebuah handphone baru tanpa sadar dan bangga menunjuk nunjukkan kepada temanya yang ikhlas menggadaikan giwangnya. “Kayaknya tuntutan gaya hidup, makanya alasan selalu kehilangan uang, apalagi dicuri bisa membuat iba siapapun yang mendengarnya, padahal bisa jadi uang itu digunakan sendiri,”itu gerutu sang teman.
Puncaknya, dari laporan sang reporter yang mendapatkan iklan dan berhak mendapatkan fee 10 persennya tertunda beberapa bulan, padahal sang reporter yang kebetulan mendapat rejeki mendapatkan iklan senilai 3,3 juta, dan telah disetor kepada seorang admin yang menjadi biang persoalan. Hampir berbulan-bulan , ternyata komisi sang reporter tidak turun. Ternyata keluhan serupa juga dirasakan pemarketing lainnya, termasuk satu orang gatekeeper. Usut punya usut, ternyata uang itu belum tersetor ke bagian keuangan, akibatnya rekap perbulan tak menghitung komisi untuk sang reporter.
Sang reporter memberanikan diri lapor ke sang majikan. Terkuaklah ’sandiwara’ yang selama ini ada. Pertama, sang majikan yang hanya punya keahlian mengusut ‘keburukan’ orang ini mulai memainkan keahliannya, ‘menuduh’ tanpa bukti, mempraduga tanpa logika, sampai ‘mematikan’ citra bawahannya. Ternyata seorang teman dari admin yang sama-sama ‘masuk’ di radio di lamaran yang sama, di waktu yang sama, dan menariknya atas persetujuan yang sama dari majikan, menjadi ’sasaran’ amuk dan tuduhan. Sepele, sang teman yang juga penyiar dan kadang seminggu sekali membantu menjadi trafficker berita, pernah kepepet alasan butuh uang karena saudara kecelakaan di Surabaya. Uang sang reporter senilai 3,3 juta itu ‘terpaksa’ dipinjamkan ke sang teman admin. Kabarnya, sang reporter tahu itu setelah menyerahkan uang itu. Ternyata sampai enam bulan berjalan, uang pinjaman untuk sang teman admin itu tak kunjung dikembalikan. Banyak rumor yang beredar, uang itu hilang karena dicopet, dan macam-macam alasan lainnya.
Sang majikan mendapat ‘bahan’ untuk melindungi sang admin. Caranya mudah dibaca, sang teman admin menjadi sasaran kesalahannya. Yakni meminjam uang yang sudah berumur sekitar 6 bulan tanpa segera dikembalikan. Apalagi, alasan sang majikan, uang itu dipinjam tanpa sepengetahuan sang majikan. ” Itu kesalahan fatal,
“katanya geram seperti sengaja melupakan kasus ‘pencurian’ dengan modus iba. Sepertinya, kasus pencurian dilupakan, sedang image buruk ada pencuri di radio terus bergulir, tak ada sangkaan, tak ada perlawanan, biarkan semua bergulir , hanya tunggu waktu yang membuktikan.
Beberapa hari kemudian akhirnya digelar forum buka-bukaan, seperti halnya setahun lalu, akhirnya pendekatan pengusutan satu persatu dilakukan. Hasilnya, jelas ditemukan, sekitar 8 jutaan, dana iklan tidak disetor bagian keuangan oleh sang admin. Kemana uangnya ? apakah dicuri ? apakah memang digunakan sendiri dengan modus iba mengaku hilang di kantor. Wah bila kita pintar logika, apakah mungkin hilang berulang kali, tapi tidak sakit hati, malah tertawa, merokok, minum, berubah gaya. Entahlah….
Sebelumnya sang pemilik putri telah memanggilku dan sang majikan, keputusannya pemecatan. Begitu pula kabar dari sang majikan justru keduanya sang admin dan teman admin dipecat karena membuat image buruk. Tapi perkembangannya justru lain, sang admin ‘diselamatkan’ , kendati jauh hari keluar dari mulut sang admin , dirinya tidak lagi bekerja di radio setelah semuanya uang dikembalikan, tanpa ada klarifikasi, apakah uang itu memang di curi. Bila ini dibiarkan, image ada pencuri di radio makin kuat beredar, dan memperburuk dimata sang pemilik. Apa upaya berikutnya ?(bersambung)