Aremania legowo mengistirahatkan atribut sakralnya. Tapi, dukungan bagi Arema tetap bergelora. Muncul ide, Aremania berganti kostum yang lebih sakral, yakni baju koko warna putih. Bagaimana dengan Aremania non muslim, dibebaskan dari baju muslim putih, tapi diperbolehkan baju, kaos dan jenis pakaian apapun yang penting putih tih.
Putih bukan berarti menyerah, putih artinya suci, karena memang hanya kesucian hati yang mampu melawan sebuah kedzaliman. Bagaimana dengan lagu dukungan ? banyak usulan yang muncul di radio, mulai sholawatan, juga lagu-lagu perjuangan seperti Padamu Negeri hingga Maju Tak Gentar.
Bagaimana dengan bass drumnya, Cak No tadi siang bertemu dengan saya dan berusaha menyampaikan idenya. Tidak perlu bawa bass drumnya, tapi bawa rebana, ketipung atau bongo. Nuansa sholawatan pun akan Cak No bawa. Bahkan Cak No juga siapkan lagu dengan nuansa Qosidahan.
Dari sekian ‘atribut’ pengganti Aremania, terpenting adalah semangat bahwa Aremania yang berganti menjadi Pegiat Bola Malang Raya ini tetap ingin agar Arema eksis meskipun terluka.
Cara cerdas pecinta bola di Malang Raya menyiasati persoalan yang pelik ini, tentunya kita berharap jangan ada anggapan untuk menyiasati sanksi hukum yang mendera Aremania. Tapi terpenting adalah, bahwa dukungan sepak bola sebetulnya jangan dilihat dalam konteks simbol-simbol.
Seperti halnya sepakbola maju di dunia barat, simbol-simbol hanya digunakan sebagai perekat. Tapi, semangat, motivasi dan inspirasi bagi tim itu jauh lebih penting. Berbeda dengan pandangan PSSI, bahwa selama ini memeras otak untuk membina sebuah suporter dengan pendekatan simbol-simbol, sentimen kedaerahan, bahkan sampai ke fanatisme semu. Akibatnya, persatuan pendukung bola akhirnya mudah tergesek, karena setiap suporter bukan mengedepankan fair play dan kualitas tim yang mesti didukung, tapi semata-mata karena fanatisme kedaerahan. Karena itu, bagian dari revolusi PSSI adalah pola pembinaan suporter.
Sementara Aremania cepat belajar dari persoalan, begitu sanksi Aremania tiga tahun dicekal. Mereka cepat berpikir, bahwa kualitas sepakbola jauh lebih penting ketimbang sibuk dan terforsir urusan membangun fanatisme kedaerahan lewat sepakbola. Dengan apapun atributnya, sebebas-bebasnya bentuk dukungan, tujuannya adalah mendorong agar tim bola profesional. Bila tim ini bagus, maka dukungan akan membludak, sebaliknya bila tim ini buruk, suporter harus berani berteriak buruk.
Karena itu, momentum Aremania ganti atribut ini tentu sangat penting untuk lebih mendewasakan para pegiat bola di Malang Raya ini. Layaknya komunitas Sholawatan, meski pakai seragam apapun, tapi terpenting adalah kekhusyukan memanjatkan doa kepada Ilahi. Demikian pula dengan Aremania, apapun atributnya tapi kekhusyukan untuk memberi semangat bagi Arema adalah sesuatu yang baru. Biarkan Sholawat Bumi Arema berkumandang di ranah hijau sepak bola Indonesia.



bener sam aku haru tenan ndelok kelakuane arek-arek… sampek aku mbrebes mili… aku seneng aku bangga aku semangat dadi arek Malang.