….Rapat ditutup dengan berbagai ‘tudingan’. Kuantar sang petinggi sampai di luar ruangan, di luarpun terlecut kalimat, pengelola dulu tertuduh sebagai maling, tapi sekarang lebih maling. Aku hanya tersenyum meringis, dan berusaha tidak menjawab. Aku anggap lontaran itu adalah candaan ditengah tuduhan yang begitu lekat. Aku ikhlas menanggapinya, tapi akan kubuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar, ada yang tidak fair dalam mengelola rejeki ini…..
Hari terus berlanjut, esok mesti ada harapan baru. Sang petinggi menjanjikan untuk bertemu dengan seorang yang harus bertanggung jawab. Sabtu 5 Januari, aku kembali dipanggil, dan di ruangan dingin itu aku diberikan sebuah kepastian kendati masih ‘ngambang’ soal siapa saja yang terlibat. Tapi kuncinya adalah pada pemasaran yang tidak beres.
Sore hari, kupastikan agar sang petinggi kembali bertemu dengan seluruh kru. Akhirnya , pertemuan digelar, setelah menunggu hampir beberapa jam, karena ruang pertemuan masih dipergunakan komunitas lain yang sedang intens berdiskusi tentang kue pembangunan.
Hujan rintik semakin deras, sederas hati kami tertanam kebencian dan kesuudzonan yang mendalam pada sebuah laporan pemasaran yang menjadi biang persoalan. Sang Petinggi telah meluncur di ruangan, dengan bercelana pendek. Semua kru telah masuk di ruangan, duduk melingkar. Ditengah meja melingkar duduk ditengah sang kumis tebal, duduk di pojok pinggir timur sang petinggi, sedang di pojoko barat duduk diriku dengan terus berdoa, agar di forum ini muncul kejujuran baru.
Sang petinggi memulai kalimat pengantarnya. Sang petinggi lagi-lagi berbicara lantang, apakah ada yang menikmati uang yang didapat dari ketidakjujuran selama ini, selain seorang tertuduh yang memang saat ini satu-satunya kru yang tidak diperbolehkan datang ?
Semua satu persatu membeberakan kejujurannya. Ada pengakuan jujur, pernah menerima uang, tapi tidak sebesar yang dipikirkan petinggi. Termasuk dirikupun juga pernah menerima, tapi itupun tidak sebesar yang dibayangkan. Bahkan, sumpah model apapun siap dihadapi kalaupun untuk membuktikannya.
Akhirnya sang petinggi mengungkap segaala tabir yang selama ini menjadi rahasia. Diam-diam, dia telah perintah tim bayangannya untuk mengawasi sang tertuduh. Ternyata kesimpulan sementaranya sang tertuduh ini telah bebruat tidak jujur dengan dilakukan secara solo alias sendirian.
Pundi aset yang telah berhasil dikumpulkan menurut sang petinggi, tiga mobil kategori lumayan, dan sebuah rumah senilai 180-jutaan, yang kini kurang sekitar 25 jutaan. Sang petinggi meyakinkan semua kru, dengan mengatakan bahwa dia telah cek di semua dealer kendaraan roda empat, dan sebuah developer yang paham soal lokasi rumah.
Saat itu, terenyuh hatiku, amuk batin , lagi-lagi aku di khianati. Aku hanya gedek-gedek kayak orang bodoh. Kejengkelan ini makin menjadi-jadi. Tapi kucoba terus meredam. Sang petinggi memberikan ketegasan, bahwa urusan ini sekarang ditangani khusus antara dirinya dengan sang tertuduh.
Sebuah tugas diemban kepadaku agar mulai bekerja seperti biasa sambil memperbaiki manajemen yang telah akut. Beberapa hari berikutnya, sebuah kabar disampaikan dari sang petinggi. Pagi itu, aku dipanggil, sang petinggi hanya memberi kabar bahwa aku diminta untuk bekerjasama dengan seorang ahli IT untuk memperbaiki manajemen.
Hatiku bertanya-tanya, ada apa dibalik ini ? akupun masih belum memahami ? menjelang sore, misteri itu mulai terkuak, intitusi kepenyiaran ini butuh perbaikan. Ahli IT ini mulai bekerja. Langkah pertama menginventarisir persoalan yang mengganjal. Sedikit demi sedikit mulai terkuak.
Pertama informasi dari sang tertuduh, bahwa sebuah dan senilai 20 juta telah terkirim di tangan penentu kebijakan kepenyiaran di Surabaya. Kami, mencoba untuk mengejarnya. Senin 21 Januari, kamipun meluncur ke Surabaya. Keinginan bersama sang tertuduh ke Surabaya, ternyata batal. Sang tertuduh meluncur sendiri karena alasan tertentu. Kamipun berjumpa disana, meski terpaut beberapa menit, karena dia mengaku harus terlebih dahulu bertemu dengan sebuah lembaga yang mengatur pengawasan frekuensi. Entah aku tak tahu apa yang dia mau.
Sebuah taksi putih, sudah singgah di depan kantor dekat terminal Bungurasih itu. Dia turun dengan langkah agak susah, wajah yang tak lagi cerah. Duduk didiantara kami, dan mencoba untuk menenangkan masalah.
Sebauh dokumen, coba kita minta untuk memperbaiki segala kekurangan. Termasuk berupaya untuk memburu dana senilai 20 juta yang kabarnya sudah terlanjur masuk untuk memperlancar proses ijin. Tapi tanda-tanda itu tidak ada. Sebab, sang penerima dana kabarnya sedang berada di Jombang, dan dalam sebuah SMS yang diterima sang tertuduh dia malah justru akan siap ke Malang. Sementara petuga admin, ketika akan kumintai jawaban, justru aku dicegahnya, karena dianggap tidak etis karena bukan urusannya, hanya sekedar staf admin.
Akhirnya kusabarkan emosiku, kuberitahu sang ahli IT, diapun menerimanya, kendati wajah protes tak bisa menipuku. Tapi coba bersabar. Sang tertuduh, tidak ikut dengan kami, hanya makan bersa,a dia terhenti didepan sebuah pabrik gula di kawasan Sidoarjo, karena alasan ingin bertemu saudara.
Ya Allah, berikan petunjukMu dan kekuatanMu untuk mengungkap kondisi sulit ini ?, begitu keluhku di jalan. Sampai di Malang, hatiku terus berkecamuk dan protes. Kenapa ini terjadi ? tidurku tidak pulas.
Paginyapun, aku coba mengatur nafasku. Aku masih yakin Allah akan memberikan kejutan. Benar, sekitar pukul 9 pagi, sang tertuduh tiba-tiba menelponku. Dia mengaku akan kembalikan dana 20 juta, karena tidak ingin resiko. Dugaanku, jangan-jangan dana ini hanya klaim telah diberikan seorang oknum untuk mengurus sbeuah ijin. Tapi aku coba menjauhkannya.
Sejam berikutnya, sang reporter membawa empat buah amplop dengan tebal berisi uang. Ini uang yang dimaksud. Langsung saja, uang itu ku berikan kepada sang ahli IT. Hatiku lega, bahwa tuduhan terhadapku yang terngiang, gosip yang muncul bahwa uang itu tak kan bisa kembali. Terima kasih Allah, kau buktikan tangisanku itu. (bersambung)


