Hampir empat bulan berjalan tidak menulis apapun. Entah karena kesibukan, atau penat pikiran. Malam ini kucoba merangkai tulisan, dari sejumlah peristiwa singkat yang coba ku rekam selama terjadi di Malang.
Terakhir soal aksi kekerasan FPI, yang berujung pada penangkapan, desakan bubar, sampai kaburnya tokoh penting Laskar Islam, Munarman. Di Malangpun ikut latah menyuarakan itu. Bahkan Tempo Interaktif pada Sabtu 7 Juni 2008 memberitakan kalau Munarman dikabarkan sempat kabur di Malang.
Berita menakutkan inipun sempat coba kudiskusikan tidak hanya rekan-rekan di kantor, tapi juga seorang ‘Oprah Winfrey’ lanang di Indonesia, yakni si kribo Andy F Noya host Kick Andy. Siang itu sebelum dia onair di radio, sempat diskusi singkat soal FPI. “SBY justru patut berterimakasih kepada FPI. Karena kasus di Monas itu, sedikitnya melupakan sementara orang untuk tidak mengusik soal kenaikan BBM,” usik Andy yang memakai baju cokelat, dengan stelan celana gunung berwarna hijau, dengan paduan topi hitam bertuliskan American Idol yang menutup rapat rambut keritingnya.
Tapi dari mulutku bukan itu yang ingin kutanyakan. Apakah selama ini media di Jakarta tidak berusaha tanya, siapa saja mereka yang menjadi pengikut FPI, atau Rizieq. Sebab dalam sebuah tayangan langsung tv nasional saat polisi menggerebek ‘markas’ FPI di Petamburan, ternyata bukan warga atau tetangga dekat tempat tinggal Rizieq yang ikut-ikutan FPI.
“Benar, mereka rata-rata kontrak di sekitar Petamburan. Sebagian besar mereka datang dari Banten,”imbuh Andy. Bahkan ketika kutanya, apakah Bang Andy sempat tahu, apakah rizieq memiliki pesantren, dimana dalam pesantren itu apa yang menjadi materi didikan dan materi ‘brainstorming’ seseorang hingga berani melakukan tindakan kekerasan atas nama agama ?
Bang Andy menyebutkan, dia pernah dengar kalau Rizieq menjabat sebagai pembina sebuah pesantren di Banten. Tapi, dia tidak tahu banyak apakah Rizieq adalah seorang ulama kharismatik yang memiliki pesantren atau tidak. Kenapa saya tertarik bertanya kepada ‘orang jakarta’ itu ? karena pikiranku dengan tahu dimana pesantren itu ada, kita akan tahu pula apa saja yang diajarkan dari seseorang hingga menjadi sebuah kader yang berani bernama FPI. Dari situ pula kita akan tahu apa yang menjadi rujukan mereka, gerakan di Timur Tengah, Arab atau negara mana yang menjadi acuan sejati gerakan mereka. Dengan disitu kita akan bisa mengkaji lebih dalam tentang FPI.
Dari situ akan muncul dan jelas, bagaimana semestinya kita bersikap terhadap sebuah pro dan kontra, apakah FPI layak bubar atau tidak. Termasuk keberadaan AKKBB yang dianggap sebagai wadah yang condong ‘melindungi’ Ahmadiyah. Kebebasan beragama dan berkeyakinan memang di negara ini dilindungi, tapi pemerintah mestinya terbuka dan tegas ada beberapa hal yang masuk kategori ‘dilindungi’, bukan malah membiarkan elemen anak bangsa ini justru terjebak dengan perbedaan pandangan, perbedaan asumsi, perbedaan penafsiran yang kemudian menjurus ke penyelesaian sendiri sendiri dengan jalan kekerasan. Semua pihak tentu harus intropeksi. Itu kata para tokoh Muhammadiyah menyikapi polemik FPI.
Mungkin ini awal tulisan saya untuk gerakan melawan malas menulis saya.



itu isu buatan pemerintah buat mengalihkan isu bbm. awas!!! ada konspirasi besar dibalik semua ini.
hehehe… . rupanya bung andy noya suka ngamatin politik juga