Keberadaan Hippam ( Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum) tidak sekedar memenuhi kebutuhan air sehari-hari oleh masyarakat. Karena sebelumnya mereka harus rela berjalan kaki menyusuri hutan sepanjang empat sampai lima kilometer untuk mendapatkan air secukupnya. Tapi, Hippam sebagai media penggerak ekonomi warga serta melestarikan tradisi gotong royong warga.
Seperti dirasakan warga Dusun Gempol Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Sebelum ada Hippam Sumber Makmur, jauh sebelum tahun 70-an, warga rela berjalan kaki untuk mendapatkan air dari Sumber Air Coban Talun. Menurut Safari, Ketua Hippam Sumber Makmur mengaku sulit mendapatkan informasi siapa penemu sumber air di coban talun. “Itu yang menemukan para pendahulu kita dulu. Kalau orangnya satu-persatu kita tidak tahu, tapi memang itu ditemukan warga dusun secara gotong royong,”katanya.
Sementara warga Dusun Gempol saat itu kondisinya sangat memprihatinkan. Kata Ning Waris, satu diantara tokoh di Dusun Gempol mengungkapkan untuk mendapatkan air ,warga kadang dua sampai tiga hari sekali harus berjalan kaki masuk ke hutan berjalan di pinggiran tebing. Padahal, warga hanya mampu membawa air secukupnya untuk kebutuhan minum. “Kondisi itu dilakukan bertahun-tahun. Bahkan, di dusun ini dulu seringkali terjangkit penyakit, seperti muntaber dan penyakit kulit. Warga mandinya di sungai, air sumber hanya untuk diminum,” paparnya.
Diakui Safari sebenarnya di Dusun Gempol memiliki banyak sumber, tapi sulit untuk diakses masyarakat. Yang dapat dijajaki warga hanya Sumber Air Coban Talun, kendati lokasi sumber itu berada di desa tetangga, Desa Tulungrejo.
Ditambahkan Safari, sekitar tahun 1970-an seorang warga bernama Satemo, yang kebetulan tinggal tidak jauh dari Sumber Air Coban Talun memiliki gagasan agar sumber air itu bisa didistribusikan ke warga desa yang berada jauh di bawah sumber air. Sampai sekarang Satemo masih bertugas sebagai pengawas sumber air.
Safari mengungkapkan gagasan Satemo itu disambut baik warga Dusun Gempol. Mereka lantas kerab melakukan pertemuan untuk menggagas pemasangan pipa distribusi ke dusun. Sebelum itu dilakukan, warga dusun meminta ijin kepada para tokoh masyarakat diimana loaksi sumebr air berada. Kebetulan, sumber air itu berada di desa yang berbeda yakni Desa Tulungrejo.
Gagasan warga Dusun Gempol itu diterima baik oleh para tokoh desa Tulungrejo, meksi bukan menjadi bagian dari warganya. Tapi karena faktor geografis yang memang lebih dekat dengan domisili mereka, sekaligus kondisi Dusun Gempol yang sangat membutuhkan distribusi air.
Saat itupun, dirancang kompensasi bagi Desa Tulungrejo. Menurut Safari, para tokoh masyarakat setempat mewanti-wanti, warga Dusun Gempol diperbolehkan mengambil sumber air tapi harus melestarikan penghijauan di sekitar sumber air.
“Jadi, kompensasi yang diberikan berupa penghijauan, membangun masjid, membantu kegiatan kampung, tapi besarnya seadanya, tidak ditentukan besarnya berapa,”aku Safari.
Awalnya Pipa Satu Dim
Setelah mendapat sambutan warga Dusun Gempol, dan restu dari para tokoh Desa Tulungrejo, warga menggagas pipa distribusinya. “Warga waktu itu sangat menggebu-gebu. Warga urunan (patungan biaya,red) seikhlasnya untuk membangun pipa,” tutur Safari.
Akhirnya uang patungan warga mampu untuk pengadaan pipa satu dim. Itupun panjangnya masih jauh dari jarak tinggal warga. Meski demikian, warga bersyukur, karena tidak lagi jauh berjalan kaki masuk ke hutan untuk mendapatkan air. Semula air tidak bisa lancar mengalir, karena keterbatasan pengetahuan warga untuk mengalirkan air ke warga.
Semula tidak ada nama organisasi Hippam, tapi sekedar perkumpulan warga yang dinamakan Samikran. Samikran itu artinya satu tandon air dengan satu kran dipergunakan untuk semua warga. “Karena memang waktu itu, warga hanya mampu membangun jairngan pipa satu dim dari sumber air ke satu tandon, hasilnya tidak mencukupi kebutuhan air warga. Meski pipanya dua dim, tapi keluarnya sampai kampung hanya separuhnya,”kata Safari.
Setelah beberapa tahun berjalan, beberapa pipa diperbarui dengan mengganti pipa dua dim dan tekanan air mulai bisa diperbaiki, maka sekitar tahun 80-an, dibentuk organisasi resmi Hippam dengan nama Sumber Makmur. Artinya, kata Safari, distribusi air yang lancar itu menjadi sumber kemakmuran warga.
Akhirnya setiap tahun dilakukan evaluasi, termasuk meminta bantuan kepada Pemerintah Kota Batu. Sejalan perjalanan waktu, tahun 90-an, mereka digandeng dengan lembaga swadaya masyarakat Fokal Mesra (Forum Kajian Air dan Lingkungan Menuju Selaras Alam ) Kota Batu. Setelah dilakukan evaluasi dan pemahaman perlunya air, kini dilakukan pengelolaan secara baik untuk dapat mengaliri air bagi 150 KK atau sekitar 600 jiwa di Dusun Gempol.
Merealisasi Meterisasi
Setlelah menggandeng Fokal Mesra, upaya perbaikan pengelolaan manajemen Hippam di lakukan. Mulai dari pengawasan kualitas air, pemantauan saluran air, sampai pengelolaan manajemen administrasinya.
Hadi Winoto, satu diantara petugas pendamping dari Fokal Mesra mengungkapkan perbaikan awal yakni bagaimana mengubah manajemen tradisional yang diterpkan warga menjadi lebih moderen. Seperti soal penentuan tarif. Penentuan tarif disepekati melalui musyawarah warga. Dulu warga ditarik iuran rata-rata sebesar seribu sampai dua ribu rupiah. Kini mereka dimintai iuran antara lima ribu rupiah sampai 20 ribu rupiah bergantung pada jumlah air, juga keluhan adanya kerusakan jaringan menuju rumah warga.
Hadi menambahkan masuknya Fokal Mesra untuk membantu warga dalam pemanfaatan air. Sebab/ dulu dari 150 kk, hanya 70 yang menikmati air bersih. “Itu karena penggunaan air tidak dapat terkontrol. Tapi warga menggunakan sistem spuyer atau kricikan, istilahnya warga. Ada warga yang bisa menikmati air hanya setengah hari, ada yang satu hari sekali, bahkan ada yang seminggu sekali baru mendapatkan air,” ungap Hadi.
Fokal Mesra melakukan pendekatan dengan warga dan bekerja sama dengan ESP Usaid mendapatkan bantuan untuk beberpa kegiatan , mulai pemberdayaan sampah, pertaniah ramah lingkungan, biogas dan terakhir perbaikan manajemen hippam. Dipilihnya Hippam Gempol ini, karena berbeda dengan hippam lainnya, sebab pemanfaatan airnya masih sangat kurang, selain itu lokasi sumbernya berada di lokasi lain, mereka harus keluar dari desa untuk mendaptkan air.
Setelah melakukan sejumlah pertemuan dengan warga, kata Hadi, muncul gagasan adanya perbaikan pipanisasi, peningkatan volumen tandon sampai ke meterisasi. Pipanisasi ditingatkan volumenya dari dua dim menjadi tiga dim, dan setiap rumah warga ditempatkan meterisasi. Apalgi, perkembangannya pemanfaatan air di Dusun Gempol tidak hanya untuk warga, tapi juga didistribusikan untuk keperluan komersil seperti villa.
“Baru satu bulan bantuan diberikan, proyek sudah dapat dinikmati warga. Selain masalah teknis, kita juga memperbaiki sistem administrasinya, terutama dalam penentuan tarif penggunaan air. Tarif tidak boleh ditentukan sendiri oleh pengurus Hippam, tapi harus berbasis masyarakat, yakni melalui musyawarah warga. Bila tarif ditentukan pengurus, itu sangat riskan, ”kata Hadi.
Rata-rata kini setiap warga dikenakan tarif lima ribu rupiah perbulan. Warga juga dipahamkan, lanjut Hadi, bahwa tarif itu dipergunakan untuk pengelolaan hippam, perbaikan, pengawsan, kelestarian longkungan, terutama di kaaan sumber air, serta untuk membantu kegiatan masyarakat.
Hasil musyawarah warga dalam penentuan tarif, maka diputuskan penggunaan air sesuai kategorinya. Dijelaskan Hadi, untuk pemakaian rumah tangga 20 meter kubik dikenakan tarif 5 ribu rupiah perbulan, selebihnya ditambah Rp 300 permeter kubik. Sedangkan tarif komersil untuk villa dikenakan penambahan biaya Rp 750 per meter kubik. Kini Hippam mencatat memiliki 140 pelanggan , dimungkikan jumlah itu akan terus bertambah.
Program meterisasi berlangsung sejak September 2008, dan hanya butuh waktu dua bulan untuk memasang 140 pelanggan. Sementara kini sistem meteran akan diujicobakan selama satu tahun kedepan. Menurut Hadi, dalam uji coba satu tahun itu, warga msih ditarik tarif rata-rata yakni Rp 5000 perbulan. Perlunya uji coba, untuk mengetahui seberapa besar kebutuhan air per KK.
Selain itu, untuk mengetahui besaran produksi dan pendapatannya. Termasuk mulai dari asumsi peningkatan pemakaian. Sebab asumsi itu, kata Hadi, akan dipergunakan untuk penentuan tarif bersama masyarakat.
Setelah mendaptkan bimbingan tentang manajemen. Gayungpun bersambut, Dinas Sumber Daya Alam dan Mineral Pemerintah Kota Batu merespon perbaikan manajemen Hippam Sumber Makmur Dusun Gempol. Pemkot Batu selama dua tahun terakhir memberikan bantuan peningkatan pipa distribusi menjadi tiga dim. Kini wargapun tidak perlu khawatir akan kehabisan air. “Air kini sudah melimpah didusun kami. Setiap saat warga bisa menikmati air, “ujar Safari riang.
Sayangnya, kata Safari, Pemkot Batu hanya membangun jaringan distribusi sepanjang 700 meter dari sumber air. Karena itu, dia berharap agar kedepan pipanisasi diperpanjang sampai ke dusun. “Jadi saat ini ada dua pipa dari sumber air coban talun, satu pipa dua dim milik wrga, dan yang tiga dim dibantu Pemkot Batu. Cuma yang langsung ke dusun kini pipa dua dim yang dibangun warga,”ungkap Safari.
Selain bantuan fisik, Pemkot Batu juga emberikan bantuan peltihan berupapemahaman tentang manajemen, perijinan, peraturan penggunaan air bawah tanah, serta hal teknis lainnya.
Bagaiman dengan kualitas airnya ? Safari, Ketua Hippam Gempol mengungkapkan, pihaknya bekerjasama dengan Fokal Mesra seecara rutin melakukan pengawasan terhadap kulits air. Carannya, dengan membawa sampel air setiap berkal tiga bulan sekali diteliti. Kebetulan Fokal Mesra memiliki laboratorium untuk menguji itu. “Hasilnya sungguh mengejutkan, dibanding dengan air kemasan bermerk terkenal, kualitas air yang dikelola Hippam Gempol lebih sehat. Karena itu, kami minta warga agar hati-hati mengkonsumsi air kemasan,”pesannya.
Jasa Lingkungan
Air yang berlebih mengalir di Dusun Gempol Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu itu akan terus mengalir, bila pelestarian lingkungan disekitar sumber air Coban Talun terus diperhatikan. Menurut Hadi, Fokal Mesra terus memberikan masukan kepada warga agr memperhatikan perlindungan sumber air. “Sebab bila tidak, nanti debit air akan bisa bekrurang, bila hutan disekitar sumber air menjadi gundul,”ujarnya.
Selain itu, lanjut Hadi, bila tidak dijaga, apabila musim kemarau datang, maka debit air di sumber air dipastikan mengalami pengurangan. “Maka perlunya ditingkatkan tandon untuk mengantisipasi datangnya kemarau,”ujarnya.
Pihak yang memberikan bimbingan selain Fokal Mesra yakni dari Dinas Sumber Daya Alam dan Mineral Pemkot Batu. “ Perawatan kaitannya berbasis lingkungan, mulai dari pengaturan teknis di tempat sumber air yang menjadi prioritas utama, dilanjutkan ke pipa, tandon sampai ke distribusi ke rumah,”papar Hadi.
Dalam perawatan ini, krarena pengelolaan berbasis masyarakat, maka perawatan melibatkan semua masyarakat. Setiap thaun, warga menggelar kegiatan penanaman penghijauan di sekitar sumber air. Warga sangat memahami tradisi tahunan itu, bahkan gerakan menanam pohon itu wajib sifatnya. “Setiap warga harus menanam satu pohon, karena setiap warga butuh air,”tuturnya.
Menurut Hadi, Pemkot Batu juga harus mengupayakan perlunya adanya jaa lingkungan bagi semua pengelola air minum di Kota Batu. “Jasa lingkungan ini perlu untuk merawat sumber air menjadi lestari. Sebab ada kesan selama ini penggelola dan pengguna air hanya sekedar memanfaatkannya, bukan turut merawatnya, ”tegasnya. Karena itu, Hadi berharap pengelolaan sumber air berbasis masyarakat di Dusun Gempol ini bukan justru menjadi persaingan dalam mengelola sumber air, tapi menjadi percontohan, bahwa pengelolaan air berbasis masyarakat sangat memberi kontribusi positif bagi warga, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tapi menggerakkan sendir ekonomi masyarakat. (**)

