Potensi konflik politik pemilu 2009 diperkirakan akan lebih besar ketimbang potensi konflik pemilu tahun lalu maupun pemilihan walikota beberapa waktu silam. Potensi konflik itu menjadi semakin besar seiring keluarnya putusan mahkamah konstitusi tentang caleg jadi adalah caleg dengan perolehan suara terbanyak.
Ibnu Tricahyo, Ketua PP Otoda Unibraw Malang mengungkapkan, konflik tidak hanya berpotensi terjadi antar partai politik. Namun, konflik juga berpotensi terjadi di internal parpol. Sebab, persaiangan antar caleg satu partai tidak bisa dihindari menyusul keputusan suara terbanya. Sehingga, potensi perusakan atribut caleg lain akan terjadi meski mereka masih bernaung di partai yang sama.
Ibnu Tricahyo menambahkan, di kota malang saat ini tercatat lebih dari 600 caleg yang akan bersaing. Banyaknya jumlah caleg ini juga menimbulkan persoalan tersendiri saat kampanye. Itu karena caleg hanya memobilisasi jumlah masa dukungan. Menurut, Ibnu Tri Cahyo, jarang ada partai yang condong dengan konsep partai kader dan bukan sekedar partai masa. Karena partai masa, maka potensi kekerasan politik, bisa saja terjadi. (radio citra malang 87.9 fm)


salam dari bandung
Para penyembah kekuasaan tanpa rasa malu mempertontonkan kebodohannya di hadapan rakyat dengan iklan politiknya.
Dan rakyat jelata yang menganut ediologi “ hasal perut kenyang” mau saja di bodohi oleh janji-janji politik kaum penyembah kekuasan tanpa ada perasaan di bodohi dari tahun-ketahun dan hanya bisa beronani dalam pikiran menunggu sang ratu adil.
“betapa gobloknya hidup di negeri para badut”
http://esaifoto.wordpress.com
Benar, Boneka Pemilu itu hanya panggung besar Sandiwara, menyandiwarakan mereka pemain watak yang menarik uang untuk karcis manggung dari rakyat, sementara drama yang dipertontonkan belum banyak menarik tawa, canda para rakyat. Sebaliknya hanya kehampaan, menginjak-injak nurani, lantas bagaimana kita bersikap pada pangung sandiwara itu. Menggantinya dengan lakon yang memberi arti dan makna bagi rakyat. Revolusi Panggung Rakyat